March 06, 2007

drowning in reality

Ooohhh.. Thinkin’ about our younger years
There was only you and me
We were young and wild, and free

Now, nothin’ can take you away from me
We’ve been down that road before
That’s over now
You keep me coming back for more

Versi akustik lagu Heaven yang dilantunkan oleh DJ Sammy, melantun di MP3 player yang tersambung ke head unit JVC mobil gue. Entah ada unsur mistik apa di lagu ini, tapi selalu bisa membuat gue terbawa suasana. Hanya satu hal yang pasti membayang di pikiran gue, di saat lagu ini dilantunkan; masa depan gue.

Membayangkan diri gue duduk di sebelah perempuan yang gue cintai untuk mengucapkan ijab sehidup semati. Atau membayangkan gue berbaring di sebelah pria yang gue cintai, di atas padang rumput yang tidak berbatas, sambil berpegangan tangan dan memandangi bulan.

Walaupun yang paling mungkin terjadi hanyalah; gue akan menyanyikan lagu itu di acara pernikahan salah satu sahabat gue. Itu juga kalau tidak membuat tamu-tamu lainnya merasa terusik dengan suara gue yang merdu dan bernada tinggi. =p

And you know what?! Thing that most bugging me is when I am in the middle of my perfect dream then somehow, something just slipped into my mind and hit me back into reality. And it wouldn’t stop there, that something then turns into something worse, a nightmare.

Sialnya, ini baru jam setengah tujuh pagi. Dan semuanya *tadinya* terasa begitu sempurna; langit mendung, udara dingin yang membuat gue tidak perlu menyalakan AC, jalanan yang lancar dan kering; sampai akhirnya bayangan mengerikan itu mengendap di pikiran gue. Membayangkan hutang-hutang yang harus gue bayar, mobil gue yang butuh perbaikan besar, menjalani hidup sebagai seorang gay dan tetap SINGLE!, tidak merasa memiliki rumah, mengerjakan pekerjaan dengan bayaran minim.

Gue mulai merasa teriritasi dengan pikiran gue sendiri. Tubuh gue tiba-tiba menjadi lebih berat, dan gue seperti terpaku. Terpaku di bangku mobil gue sendiri. Tidak seperti seminggu kemarin yang so overwhelmed dengan kebebasan. Hura-hura. Rasanya menyenangkan menghabiskan waktu bersama-sama sahabat yang menjalani keadaan-yang-sama-tapi-juga-berusaha-menutupinya dengan tertawa dan bercanda. Walaupun gue bisa melihat kegalauan di mata mereka dengan jelas dan merasakan getir dari nada mereka.

Dan kini gue pun mulai mengamati secara detil sekeliling gue. Mulai dari sampah plastik yang tertiup angin, pedangan asongan, mobil Toyota altis merah maroon yang berhenti di persimpangan seberang, gedung yang masih sepi, pohon-pohon yang dahannya tertiup angin. Masya Allah.

Gue pernah hampir percaya, kalau semua masalah yang ada di muka bumi ini bisa diselesaikan. Dan sekarang gue sangat ingin percaya itu. Sangat ingin! Tapi mengingat lagi semua masalah yang pernah gue hadapi dan selalu terulang lagi. Gue mulai berpikir mungkin memang harusnya seperti itu. Mungkin memang ini yang harus gue hadapi.

Dan gue kembali melajukan mobil gue sambil tersenyum dan gue dapat melihat lebih jelas melalui kaca mobil gue, sejelas keberadaan gue yang kembali tenggelam di dunia nyata.

No comments: