March 07, 2007

absoluteness of existence

Dorongan hasrat jiwa adalah sikap ambisi dan tamak. Namun barangsiapa yang mampu mengendalikan dorongan gelora syahwatnya dan mampu menjadikan akalnya sebagai pengendali hawa nafsunya, maka ia menjadi orang yang dimuliakan Allah swt di dunia dan akhirat. Adapun siapa yang tunduk di bawah kendali syahwatnya. Akalnya bertekuk lutut dikalahkan nafsunya, maka ia termasuk kelompok orang-orang yang merugi dan tersesat jalan hidupnya, meskipun ia mengira perbuatan itu baik.

Hati gue sedikit tergetar, setelah membaca kalimat di atas, sebuah penggalan dari cerita Habil dan Qabil; Pembunuhan Pertama di Muka Bumi.

Gue hampir tidak menemukan celah untuk mencari pembenaran diri dari apa yang gue telah jalani selama ini, kecuali; tentu saja Habil bisa mengemban amanah itu dengan baik, karena yang akan dia nikahi adalah wanita yang lebih cantik daripada wanita yang dijodohkan dengan Qabil. But then again; cantik itu relatif.

Dan gue sempat berpikir, tentunya lebih mudah bagi para straight untuk mencintai wanita, karena dari awalnya mereka memang sudah menyukai wanita. Dan seperti di posisi Qabil; di saat seorang gay seperti gue harus mencintai wanita dan dibandingkan dengan para straight yang “mampu mengemban amanah/takdir” yang harus mencintai dan menjaga wanita, gue pasti bakal protes. Dan perbedaan antara wanita dan pria itu adalah absolut. Beda dengan kecantikan antara dua wanita atau ketampanan antara dua pria yang sangat relatif.

Kemudian gue berusaha menelaah lagi, apakah perasaan yang gue punya terhadap pria ini adalah hanya semata-mata nafsu atau juga cinta?

……. *tertawa sendiri*

Bohong kalau gue jawab “Tidak”. Gue tidak akan terambang-ambang seperti sekarang kalau gue tidak bisa membuat garis jelas antara cinta dan nafsu. Dan gue akan menjadi bi-sex kalau gue tidak memiliki nafsu. Karena yang gue miliki sebagai gay adalah keduanya; cinta dan nafsu. Sedangkan sebagai straight, gue hanya memiliki cinta.

Tapi sekali lagi, di saat gue hanya mempunyai cinta untuk keduanya; untuk apa gue memilih mencintai yang terlarang. Dan itu karena nafsu! Karena gue tidak mampu menghadapi nafsu gue sendiri. Gue adalah orang yang merugi.

*typeless*

Gue adalah orang yang merugi.

Tapi bukannya dosa itu relatif? Dan yang absolut di muka bumi ini hanyalah pria-pria jelek?!

Gue bukanlah pendosa. Gue adalah orang yang merugi.

*typeless lagi*

Pembenaran apa pun; mulai dari supaya gue bisa menjaga kedua orang tua gue dengan baik, tidak ingin menjadi contoh yang buruk buat anak-anak gue kalau gue straight, sampai gue begini karena keadaan yang membuat gue begini! Gue gak bisa mengelak kalau gue adalah orang yang merugi.

Satu hal lagi yang absolut di muka bumi; orang-orang yang merugi.

Jadi selama ini bukan masalah dosa atau tidak; karena dosa sangatlah relatif. Tapi masalah merugi atau tidak. Dan semua pembenaran gue sia-sia, kecuali kalau gue ingin tetap merugi.

Kini diri gue seperti terlempar ke dasar jurang yang paling dalam; memakan semua pembenaran gue, menyia-nyiakan wanita yang cinta gue, mencintai pria-pria yang tidak cinta gue.

Dan benar gue adalah orang yang merugi. Ketika cinta hanyalah sebatas dunia, maka cinta antara gay adalah setengah dunia. But then again; apakah ini semua bisa membuat gue berhenti menjadi gay?

Maka gue kembali dengan bertanya, apakah ada wanita yang mampu membuat gue menjadi straight?

Dan semua gue kembalikan ke Tuhan.

Karena Tuhan pasti punya jawabannya.

No comments: