Walaupun gue sudah bertekad untuk tidak menangis lagi, tapi akhirnya gue menyerah. Menjalani hidup dengan orientasi sex yang tidak pernah jelas, menjadi pecundang di keluarga, menjadi pecundang di kantor, dan pada akhirnya menjadi pecundang di antara sahabat-sahabat gue sendiri.
Dan kini, mobil gue hancur karena kecelakaan, lamaran kerjaan gue belum difollow up lagi, kondisi badan gue menurun, dan gue tidak berani membayangkan hal yang lebih parah lagi yang bisa terjadi pada diri gue.
Di sisi lain gue harus bersyukur karena gue tidak akan merasakan susahnya mobil rusak, kalau gue tidak punya mobil. Gue juga tidak akan merasakan beratnya jadi pecundang di kantor kalau gue tidak punya kerjaan, lagian gue bukan pecundang dalam hal kerjaan, tapi lebih banyak merasa diremehkan, dinomorduakan, hanya karena gue tidak pernah protes dan terus menerima. Gue juga tidak akan merasakan sedihnya jadi pecundang di antara sahabat-sahabat gue, kalau gue tidak punya sahabat. Tapi yang paling berat adalah menjadi pecundang di dalam keluarga. Menjadi seseorang yang kurang berarti di antara kakak-kakak gue. Itulah kenapa gue justru lebih banyak 'jaim' di tengah-tengah keluarga sendiri, dibandingkan dengan saat gue berkumpul dengan orang lain.
Sampai saat ini gue terus diam, menyimpannya sendiri dan kemudian melupakannya. Kebiasaan ini sudah timbul sejak gue masih duduk di bangku sekolah dasar, di saat gue menjadi bahan olok-olokan teman-teman gue. Saat itu gue tidak tahu kemana harus berlindung, sementara keluarga gue hanya bisa menasehati gue untuk bertahan, dan sejak saat itu gue mulai terbiasa untuk tidak mempedulikan pendapat orang lain tentang diri gue.
Tapi ada saatnya, ketika semua musibah datang secara bertubi-tubi, sampai gue akhirnya harus melepaskan topeng gue, topeng yang selama ini selalu membuat gue terlihat bahagia, topeng yang membuat gue terlihat tidak peduli. Saat semua tragedi telah menyesakan dada, menenggelamkan gue, membuat gue tersesat, gue harus membuka topeng itu supaya gue bisa bernapas lebih leluasa dan memperlihatkan wajah asli gue.
Dan gue tidak pernah tahu, mana yang lebih gue suka; berada di balik topeng, atau menjadi diri gue yang sebenarnya?!
Salah satu sahabat gue pernah bilang, kalau semua musibah yang menimpa gue ini adalah sebuah tantangan buat gue untuk lebih tegar, supaya gue tidak menjadi 'drama-queen' lagi. Walaupun dia telat mengatakan hal itu pada gue *karena gue memang sudah bertekad untuk tidak menjadi drama-queen lagi, dan mulai menghadapi semua kenyataan manis dan pahit yang ada di depan gue; dan itu semua sudah gue mulai dengan mengganti profile gue di 'Friendster'*, tapi gue tetap merasa tertampar.
Topeng inilah yang membuat gue menjadi drama-queen. Karena untuk tetap terlihat bahagia, gue harus mengeluarkan semua beban melalui lubang kecil, lubang kecil inilah yang membuat gue terlihat seperti drama-queen, di saat gue bercerita tentang masalah gue, sementara gue selalu terlihat 'lebih beruntung' dari orang lain. Tapi apakah bisa menjamin gue tidak akan jadi drama-queen lagi, kalau gue dari awal tidak pernah mengenakan topeng ini. Apakah menjamin kalau gue akan tetap bisa mempertahankan semua yang gue dapatkan sekarang berkat topeng ini. Tapi apakah memang semua itu pantas untuk dipertahankan, di saat gue mendapatkannya dengan kepalsuan gue? Sampai kapan gue bisa bertahan untuk tetap tersenyum, sementara hati gue sudah tidak berbentuk lagi...
Demi Tuhan, bukannya gue tidak bersyukur; tapi gue hanya ingin hidup yang lebih baik dari ini. I know, that I'm worth for it!
Dan gue juga tahu kalau di luar sana, masih banyak orang yang memiliki beban hidup jauh lebih berat dari gue... Tapi mungkin setidaknya sebagian dari mereka tidak memerlukan topeng untuk tetap bertahan hidup.
February 16, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment