“Gue lagi gak ngarep punya pacar nih, biar gue justru dapet pacar”, ucap gue ke salah satu teman gay, yang-sudah-kenal-lama-tapi-tidak-pernah-ketemu-karena-dia-dulu-kuliah-di- Australia, gue di Yahoo! Messenger. Karena sehari sebelumnya dia mengatakan kalau cinta jangan diharapkan, nanti malah tidak kunjung datang. Jadi gue sekarang berusaha untuk mencari kesibukan dan melupakan masalah lovelife.
Tapi memang teori hanya bisa dibuktikan sebatas teori, giliran ingin mempraktekkan, cuma bisa gigit jari sambil memutar otak mencari pembenaran. “God is a comedian”, gue tidak tahu di mana gue menemukan frase itu, tapi kalau dipikir-pikir itu memang terjadi. Tuhan itu memang lucu. Ketika umatnya melakukan kesalahan, maka dia akan dihukum. Ketika umatnya ingin berbuat kebaikan, maka berbagai godaan akan ditempa pada dirinya. Dan ketika umatnya berhasil mengabaikan semua godaan, maka dia akan diberikan cobaan. Jadi intinya Tuhan memang senang bermain-main dengan kita. Positifnya, ketika kita berada dalam salah satu posisi itu, artinya Tuhan sedang memperhatikan kita dan sedang bermain-main dengan kita, walaupun kalau kita lengah, resikonya tetap Neraka. *glek!*
Gue teringat awal tahun lalu, ketika akhirnya gue bisa menyukai seorang perempuan yang dulu pernah menjadi cecepe –curi-curi pandang- gue di kampus. Well, saat itu gue memang masih labil dan belum memiliki orientasi sex yang jelas –sampai sekarang.. hihi-. Gue dekat dengan dia dari akhir tahun 2005 sampai kemudian di bulan Januari 2006, gue dan dia bisa dibilang sebagai pasangan. Saat itu tidak terlintas di pikiran gue akan orang lain, apalagi pria lain. Hanya dia yang gue suka, yang gue gilai. Dan gue bahkan sempat merasa kalau gue akhirnya sukses menjadi seorang straight. Sampai akhirnya ketika gue mengundang dia ke acara pernikahan kakak gue, dia terlihat begitu cantik buat gue, tapi tidak untuk orang tua gue. Nyokap gue dengan cueknya bilang kalau dia aneh, begitu juga dengan bokap, dan yang lebih menyebalkan lagi, nenek gue pun ikut berkomentar! Dan gue cuma bisa protes di dalam hati;
“It’s none of your business! Can’t you see that your little-gay-boy has finally found his soulmate in a girl body?!”
Tapi bencong tetap bencong, dan bencong anti di kritik. Dan karena gue bukan bencong –gay jantan tauu!- gue pun kena dikritik. Gue mulai menjauhkan diri secara teratur dari perempuan itu dengan bilang kalau gue gay. =p
Kemudian gue pun bingung dan semakin tersesat. Karena gue ingin menjadi straight demi orang tua gue, demi membahagiakan mereka. Kalau mereka tidak menyukai perempuan pilihan gue, lalu untuk apa?
Gue terus berada dalam kebingungan, until one day I heard God saying –well, I thought that I heard God saying-;
“You’re a gay, so be one! Find a man! Don’t try to find a girl, because you will only going to hurt her!”.
Dan seketika itu gue setuju, dan baru sekarang menyadari kalau yang mengatakan itu ke gue wasn’t God, instead of the devil himself, the devil inside me! Dan saat itu memang gue sedang digoda oleh Tuhan dengan membiarkan iblis masuk ke dalam diri gue. And I failed!
Sudah gagal, balik lagi jadi gay, tapi masih tetap menjomblo! Karena kesal, gue berhenti berdoa! Alih-alih menjadi bahagia, gue malah dihukum dengan diberikan berbagai musibah; dimulai dari bertengkar dengan orang tua, kecelakaan mobil, sampai akhirnya tetap tidak jadi diberikan pacar. Maaaak!
Tapi seperti gue bilang, saat-saat seperti ini justru berarti Tuhan sedang memperhatikan kita dan sayang pada kita, karena walaupun telah menghukum gue, pada saat yang bersamaan, Tuhan memberikan gue hadiah yang teramat berarti; a new damn fancy job!. Yeap, setelah sukses menggoda gue dan membuat gue kalah, akhirnya Tuhan ingin menghibur gue dengan memberikan gue kerjaan baru di perusahaan yang jauh lebih baik dari perusahaan gue sekarang.
“Dear God, how couldn’t I have faith on you, when you’re always being so nice to me like this! I love you, and I do believe in your miracles. In spite of my gayness, laziness, and other negative-ness, You are always be my shelter, a place to send my prays and to give response on my prays. “ =))
Jadi rasanya gue harus puas dengan apa yang telah gue dapatkan, dan memaintainnya supaya bisa menjadi lebih baik lagi. I really couldn’t ask for more, except for one thing;
WHEN CAN I HAVE THAT MATURE-INDEPENDENT-CARING-CUTE-SEXY-ASSED BOYFRIEND? PLEAAAAAAAASE!!!!!
And God might answer;
“Don’t expect too much of it, you lousy-gay-boy! We’re still on the game.. HAHA!”
I love You, God….
I apologize if I ever blame you as the cause of all my miseries.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment