Sebagai manusia, kita tidak boleh mengeluh dengan mempertanyakan dosa apa yang pernah kita perbuat sampai harus mengalami semua musibah ini. Dan gue sangat setuju dengan hal itu, karena sebagai manusia kita tidak akan pernah luput dari dosa, walaupun dosa itu begitu kecil sampai kita tidak merasa telah melakukannya. Tapi, sekecil apa pun dosa itu, jangan pikir akibatnya juga akan sekecil dosanya. Karena sebagai makhluk sosial, hal kecil apapun yang kita perbuat, pasti akan berdampak pada lingkungan sekitar kita, dan itu bisa jauh lebih besar dari yang kita bisa bayangkan.
Tapi sebagai gay, gue rasa boleh donk sedikit bertanya, kenapa gue bisa jadi seperti ini? kenapa hidup gue menjadi serumit ini? DOSA APA?
Menjadi gay adalah dosa, itu gue tahu. Tapi dosa apa yang telah gue perbuat sehingga gue harus menjalani hidup sebagai gay? Apa itu adalah akibat dari sesuatu yang gue perbuat di kehidupan sebelumnya? Tapi teori reinkarnasi itu sudah jelas ditolak oleh agama yang gue anut. Jadi salah teorinya, atau memang salah agamanya? Tentu saja gue lebih percaya kalau itu adalah salah teorinya, karena gue sangat meyakini agama yang gue anut.
Tapi tetap, gue percaya apa yang terjadi pada diri gue ini adalah sebuah akibat dari suatu sebab di masa lalu, seperti kata pepatah barat; Everything happens for (at least) a reason.
Gue ingat kalau gue pernah posting blog sebelum ini, tentang menelaah sebab musabab gue menjadi gay, kalau gue baca sekali lagi, secara implisit gue telah menyalahkan orang tua gue di dalam postingan gue itu. Well, I did, and I still do! Walaupun kini semua hal yang gue lakukan adalah berdasarkan keputusan yang gue ambil dan harus gue pertanggungjawabkan, tapi tetap saja gue punya dasar moral sebelum memutuskan semua hal itu. Termasuk menjadi gay! Dan termasuk apa yang akan gue perbuat mulai sekarang dan di masa depan.
--
Setelah seminggu lebih gue mengalami pertengkaran dengan kedua orang tua gue, dan berarti telah seminggu lebih juga sejak mobil gue mengalami kecelakaan (yang gue percaya sebagai hukuman gue karena telah berani melawan kedua orang tua gue), hidup gue terasa lebih tenang, walaupun mood gue tetap naik turun karena merasa kehilangan.
Biar tersambar petir kalau gue bohong bahwa gue sangat menyayangi mereka. Mereka, yang telah membawa gue ke dunia, yang telah membesarkan gue, dan menjadikan gue seperti yang sekarang ini, kini telah memasuki usia lanjut. Dan gue juga tahu kalau kini adalah kewajiban gue untuk menjaga mereka di tengah ketidakberdayaan mereka.
Tapi, memang benar apa kata sahabat gue; orang tua dengan anaknya itu bagaikan langit dengan bumi. Bahasanya juga sudah beda dan tidak pernah bisa langsung sepaham. Gue bilang A, mereka membacanya B, C, atau bahkan D. Gue bertindak A, mereka menanggapinya dengan B, C, atau juga D. Dan gue juga tidak menyangkal kalau hal itu juga berlaku sebaliknya. Lalu gimana cara mengatasinya? Sebenarnya tidak perlu susah-susah, ada hal yang namanya affection, love, dan empathy yang secara natural akan tumbuh di dalam sebuah keluarga. Jadi di saat semuanya sudah tidak bisa berkata-kata, maka tiga hal itu lah yang akan berbicara. Pertanyaan selanjutnya, mungkin tidak ketiga hal tersebut tidak terdapat di sebuah keluarga? Well, all I can say is; nothing is impossible!! And it is happening in my family.
Entah apa, entah kapan, ketiga hal itu tertahan pertumbuhannya. Bisa jadi sudah tertahan dari saat kedua orang tua gue memutuskan untuk menikah. Sebagai anak gue tidak pernah tahu apa pertimbangan mereka untuk menikah, dan sebagai orang tua, mereka juga tidak akan sejujur itu mengatakan segalanya (orang tua juga manusia yang tidak luput dari kesalahan dan masa lalu). Akibatnya, masing-masing anggota keluarga gue menjalani hidup berdasarkan asas kewajiban. Mulai dari kewajiban suami atas istri, kewajiban istri atas suami, kewajiban anak atas orang tua, dan kewajiban orang tua atas anak. Hal inilah yang kemudian berdampak menjadi kejenuhan dalam keluarga, kehilangan kehangatan, dan yang paling parah kehilangan rasa saling percaya.
Ini yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, setelah beberapa tahun sebelumnya keluarga gue bertahan di tengah krisis. Namun setelah memaksakan untuk bertahan, yang terjadi malah semakin parah.
Tadi pagi, gue mendapat telepon dari bokap gue yang menyampaikan kalau nyokap mau bicara, tapi berhubung gue lagi di tengah jalan dan berada di dalam satu mobil dengan klien, akhirnya gue minta bokap untuk hold dulu, dan nanti akan gue telepon kalau urusan kantor gue telah selesai. Gue tidak tahu dengan bahasa apa bokap gue menyampaikan pesan ini kepada nyokap, sampai akhirnya gue pun mendapatkan sebuah pesan singkat dari nyokap di handphone gue yang isinya panjang dan menyakitkan. Intinya nyokap melarang gue untuk nelepon balik dan mengatakan kalau gue munafik dan tidak sayang dia, ditambah mengingatkan gue akan hukuman dari Tuhan atas gue yang telah bersikap tidak tahu diri (di mata mereka).
Masih beruntung gue bisa menahan emosi dan air mata di depan klien (I’m well trained for this, I have the great fake corporate smile, apalagi setelah gue banyak bergaul dengan sahabat-sahabat gue yang sarcasm tapi sekaligus menjadikan gue lebih tegar), walaupun gue tidak bisa menahan diri untuk termenung dan mengurutkan kehidupan gue mulai dari gue kecil (sebatas yang bisa gue ingat) sampai sekarang. Tentunya gue juga merenungkan andil kedua orang tua gue yang bisa menyebabkan semua keadaan, baik yang di keluarga maupun di diri gue menjadi seperti ini. Akhirnya sebuah sms balasan yang lebih menyakitkan pun siap gue kirim, yang isinya adalah garis besar dari apa yang gue rasakan selama ini terhadap mereka, dan apa yang mereka tidak pernah pedulikan terjadi pada diri gue.
Tapi gue tertahan, dan memutuskan untuk memforward sms dari nyokap itu ke beberapa sahabat gue yang selalu gue andalkan. Mulai dari sahabat gue yang sarcasm, sampai sahabat gue yang sentimentil. Dari reply mereka, kurang lebih isinya sama; gue harus mengerti keadaan orang tua gue yang telah lanjut usia, dan gue harus lebih banyak berdoa daripada melakukan hal-hal bodoh untuk melampiaskan kekesalan gue. Akhirnya gue memutuskan untuk menyimpan balasan itu sebagai draft untuk sementara.
Gue pun terus berpikir dan berusaha mencerna semuanya dengan akal jernih (sedikit keruh), sampai akhirnya pada sebuah kesimpulan; gue jenuh dan gue tidak mau ambil pusing lagi. Gue juga tidak mau menyakiti perasaan mereka tapi gue juga tidak mau mengalami sebaliknya. Jadi, keputusan yang harus diambil adalah gue harus pergi. Gue tidak merasa perlu membalas sms dari nyokap lagi, yang gue harus lakukan adalah pergi dengan justifikasi yang jelas terhadap diri sendiri dan bersiap-siap untuk semua kemungkinan terburuk, seperti yang telah diingatkan oleh nyokap di sms-nya.
Satu hal yang lucu, walaupun gue pergi ternyata hidup gue tidak akan pernah bias benar-benar lepas dari andil mereka. Karena gue tahu, di saat gue melangkah pergi, gue sudah terhitung sebagai anak durhaka, dan akan diazab oleh Tuhan. Tapi yang lucu itu adalah mereka telah menjalani satu siklus penuh untuk kehidupan gue; melahirkan, membesarkan, dan kemudian menghancurkan. Jadi, kesimpulan gue tentang apa bedanya Tuhan dengan orang tua adalah; orang tua itu kasat mata. =p
Satu hal lagi yang ironis, gue mulai mensyukuri hal ini terjadi pada diri gue karena tidak semua orang berkesempatan mengalami apa yang gue alami, dan ini menjadikan gue merasa spesial di mata Tuhan yang telah menempatkan gue pada keadaan gue sekarang.
Intinya adalah gue tinggal merubah sudut pandang hidup gue, dan menjadikannya lebih baik, di luar apakah itu dosa atau tidak.
Pesan yang ingin gue sampaikan untuk orang tua gue adalah; kalau mereka ingin hidup gue hancur, memang sebaiknya begitu, karena gue juga tidak akan siap untuk menjalani hidup sendirian sebagai gay di masa tua nanti, apalagi tidak punya anak untuk disalah-salahkan.
Sayonara!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment