Gue telah menonton film ini sebanyak empat kali, dan malam ini telah menjadi yang kelima. Pearl Harbor. Walaupun bukan termasuk orang yang cengeng saat menyaksikan film-film drama sedih, mata gue selalu berkaca-kaca menjelang akhir dari film yang bercerita mengenai dua sahabat ini, Rafe dan Danny, yang selalu setia saling menjaga satu sama lainnya.
Selain aktor-aktor yang tampan (baca: menggemaskan =9..), daya tarik dari film ini adalah kisahnya yang begitu nyata bagi gue, membuat gue seakan-akan bisa memahami, menyelami, perasaan dari masing-masing tokoh yang ada di sana; termasuk Evelyn dan Red (saat meratapi kepergian Betty). Bila gue bisa bertemu langsung dengan penulis naskah ceritanya, mungkin akan langsung gue peluk dan gue akan berterima kasih padanya karena telah memberikan inspirasi dan jawaban dari pertanyaan gue selama ini; why am I gay?
Lahir pada tanggal 26 Oktober 1981, usia gue kini telah mencapai 25 tahun 3 bulan. Dan 7 tahun dari usia gue, telah gue jalani sebagai gay tanpa ada rasa ragu, walaupun gue selalu gagal menjalin hubungan yang serius (baca: lebih dari dua bulan). Keluarga, sahabat, rekan kerja, dan hampir semua orang yang pernah kenal dengan gue, tahu kalau gue adalah seorang gay. Beruntung, selama ini gue belum pernah bertemu langsung dengan orang yang membenci gay atau pun homophobia.
Dan setelah wajah-wajah berlalu, serta sex demi sex telah gue jalani dengan pria-pria yang juga mengalami disorientasi sex preference seperti gue, tetap ada satu rasa yang janggal yang bersanggah di kepala gue. Perasaan yang menolak diri gue sebagai gay. Lucunya, gue memiliki teman-teman yang telah yakin bahwa dirinya gay, tapi mereka justru takut kalau orang-orang disekeliling mereka tahu kalau mereka adalah gay. Kalau buat gue itu adalah pilihan; gue tidak mau membohongi diri gue dan orang-orang di sekeliling gue selama umur hidup gue! Tapi masalahnya justru gue tidak pernah yakin kalau gue adalah gay.
Salah satu mantan pacar pria gue pernah bilang bahwa dia tahu dari awal saat bertemu dengan gue kalau gue bukanlah seorang gay. Dan bila harus terpaksa membandingkan, bagi gue lebih mudah mendapatkan seorang wanita daripada pria. Dan justru di saat gue semakin nyaman dengan ke-gay-an gue, penolakan ini semakin kuat. Gue tidak ingin menghabiskan hidup gue sebagai gay, bukan saja karena gue tidak akan pernah berani memasuki liang lahat dalam keadaan seperti ini, tapi juga karena MUNGKIN gue memang bukan seorang gay, atau tidak ditakdirkan sebagai gay. Gue hanya harus memilih. Tidak asap kalau tidak ada api; dan gue pun berusaha untuk menganalisa sumber masalah yang bisa menimbulkan ketertarikan gue terhadap pria ini.
Masa kecil.
Entah karena pekerjaan atau hal lainnya, yang pasti kedua orang tua gue termasuk golongan orang yang suka berpindah-pindah rumah. Bahkan gue sempat berpikir kalau mungkin orang tua gue memiliki rahasia besar yaitu sebenarnya mereka adalah agen rahasia yang telah pensiun (efek nyata dari kebanyakan nonton film action fiktif).
Setelah lulus dari bangku TK, keluarga kami (baca: orang tua) memutuskan untuk pindah rumah ke lokasi yang tidak jauh dari rumah gue sebelumnya, namun cukup jauh untuk bisa bermain dengan teman-teman lama gue, terlalu jauh untuk bisa melempar-lempar batu ke setiap bus yang lewat di depan rumah dan mencari tempat bersembunyi bersama teman bila si kernet mengejar (masih TK tapi sudah jadi berandalan).
Dan gue pun harus rela berpisah dengan sahabat gue di kelas satu SD, Yano, ketika mereka sekali lagi memutuskan untuk pindah ke daerah selatan Jakarta. Dan begitu juga di tahun-tahun berikutnya ketika gue harus berpisah dengan sahabat-sahabat gue, ketika mereka memutuskan untuk memindahkan sekolah gue (beberapa kali ada yang atas permintaan gue), empat kali saat gue masih dibangku SD, dan dua kali saat gue berada di bangku SMP. Sederet nama seperti A, R, D, A, I, hanyalah tinggal sebuah nama di memori gue. Mungkin sebaiknya gue bahas mengenai hal ini di Masa remaja.
Kembali ke masa kecil gue yang cukup mebahagiakan, gue bisa membuktikan pada diri sendiri bahwa gue bukan gay; ciuman pertama gue dengan seorang wanita (baca: bocah perempuan) adalah saat gue berada di bangku TK. Entahlah, tapi yang pasti bukan karena gue pedophile atau hyper sex, bahkan gue baru mengerti sex (baca: tahu kalau untuk menghasilkan anak, sepasang suami istri tidak bisa hanya dengan tidur seranjang) saja ketika gue telah berada di bangku SMA. Naaaah, tidak heran kan kalau ternyata sampai sekarang pun gue masih lugu dalam beberapa hal. =p.
Intinya gue memiliki masa kecil yang bahagia yang tidak kekurangan sesuatu pun. Jadi apa mungkin gay itu diwariskan melalui gen? tunggu dulu! Kita belum sampai pada cerita masa remaja gue.
Masa remaja.
Setelah meninggalkan beberapa orang sahabat gue di bangku SD, ada satu orang yang sempat menjadi sahabat gue, N, teman yang bahkan sampai sekarang masih saling berhubungan walaupun sudah sangat tidak bisa untuk dibilang masih bersahabat.
Walaupun kami hanya sempat belajar di satu sekolah dari kelas 5 SD sampai pertengahan kelas 2 SMP, gue dan dia tetap berhubungan sampai akhirnya persahabatan kami rusak menjelang masuk bangku kuliah.
Tapi perlu dicatat, persahabatan kami sama seperti persahabatan orang lain, dan tidak menimbulkan rasa cinta. Dia hanyalah orang yang bisa gue ajak berbicara selama lebih dari satu jam di telepon, dan memiliki keinginan berpetualang yang sama.
Seingat gue, pertama kali sekali gue memiliki rasa tertarik terhadap pria (bukan sexually), adalah saat gue berada di bangku kelas 2 SMP, di Bogor. I, gue bahkan tidak mengenalnya dengan baik, dan dia selalu mengganggu gue dengan menjitak kepala gue ketika kita berpapasan di sudut-sudut sekolah. Dan dia hanya tersenyum, tapi cukup untuk membuat gue merasa telah mengenal dia dengan baik selama bertahun-tahun, dan merasakan apa yang dia rasakan, walaupun dia begitu misterius. Kami tidak pernah mengobrol, tapi yang kutahu dia tinggal di Gunung Putri (yang kini telah menjadi lokasi mistis bagi gue, you’ll find out why!), yang lumayan jauh dari Bogor, dan mengharuskan dia menggunakan bus antar kota untuk bisa mencapai sekolah.
Setahun berikutnya, gue kembali bisa mengklaim kalau diri gue bukanlah gay, karena gue jatuh cinta pada perempuan ini, A. Dia yang bisa membuat gue senyum-senyum sendiri di setiap kesempatan dan menjadi penggemar berat Dewa19. Tapi gue juga membuktikan kalau menjadi anak naïf di usia awal belasan sangatlah tidak menguntungkan. Apalagi kalau tidak mengerti mode dan masih percaya kalau merokok bisa menghantarkan kita ke tungku neraka. Astrid menolak gue! Sakit dua hari (muntah-muntah kayak orang hamil muda), dan membenci dia selama sebulan. Gue benar-benar tergila-gila padanya!
Dan ternyata bukan hanya itu saja penderitaan hidup gue di usia belia itu. Bokap gue dipergoki dan terbukti memiliki WIL, yang menyebabkan nyokap gue sangat tertekan. Dan ketika orang yang kita sayangi dan selalu berada di rumah untuk menanti kita pulang sekolah dan mendengarkan cerita tentang semua kejadian di sekolah mulai bertingkah di luar kebisaaannya, menjadi lebih kasar dan cengeng, pasti juga akan merubah pola hidup kita dan anggota keluarga lainnya. Kakak perempuan gue lebih memilih untuk berada di dekat teman-temannya dibandingkan dengan keluarga sendiri. Kakak laki-laki gue lebih banyak berada di kamar mendengarkan musik dan belajar. Sedangkan gue tetap berada di kamar dengan berurai air mata, ketakutan, frustrasi.
Keadaan itu terus berlanjut sampai akhirnya gue dan kedua orang tua gue kembali pindah ke Jakarta. Gue memasuki bangku SMA. Dan seperti pengalaman sebelumnya, karena kenaifan gue, gue selalu menjadi korban intimidasi teman –teman pria gue, dan ditambah lagi suasana di rumah yang tidak pernah ada kedamaian lebih dari sehari, gue bukan hanya tidak percaya diri untuk mencari pacar perempuan, tapi juga untuk sekedar memiliki teman pun gue sulit. Gue tidak pernah jalan-jalan sepulang dari sekolah sama seperti gue tidak berani mengajak teman gue bermain di rumah. Gue malu.
Lambat laun keberanian gue tumbuh dengan cara yang salah. Gue tidak menjadi dewasa, tapi memaksakan diri untuk menjadi dewasa. Dan buat gue dewasa pada waktu itu adalah punya cukup keberanian untuk memberontak. Memprotes keadaan. Kelas 2 SMA, gue mulai belajar merokok dan membeli film porno. N, sahabat gue juga mulai sibuk dengan teman-temannya walaupun masih memiliki waktu untuk mendengarkan keluh kesah gue di akhir minggu. Gue kesepian. Mencoba memiliki seorang pacar wanita tapi selalu gagal dan gue merasa kalau wanita-wanita itu hanya memanfaatkan gue saja! Sampai akhirnya gue menemukan teman baru, M, yang peduli dan mengerti keadaan gue. Dia yang membuat gue merasa aman dari gangguan teman lain. Namun dia bukanlah malaikat penjaga yang dikirim dari surga untuk menjaga gue, karena akhirnya dia lebih menyibukkan diri dengan ekskul yang dia pimpin dan teman-teman barunya yang jauh lebih menarik dari gue. Gue merasa kehilangan, dan mulai merindukan dirinya (cikal bakal gay).
Di saat yang sama gue juga memiliki teman sebangku yang selalu kompak dengan gue, T, gay. Dia adalah poros hidup gue, membuat gue melakukan apa yang menurutnya benar untuk dilakukan. Dialah sahabat baru gue! Tapi gue tetap straight (walaupun mulai ragu) dan dia benar-benar semata-mata sahabat gue.
Hari-hari berlalu dengan penuh siksaan, tekanan di rumah semakin menjadi-jadi, keributan antara kedua orang tua gue semakin tidak terkendali, mulai dari lempar-lemparan barang pecah belah sampai membanjiri kamar tidur dengan air. Gue bahkan pernah mencoba untuk bunuh diri sebanyak dua kali, entah berkah atau musibah, gue tetap selamat! Dan dengan semua perasaan yang bercampur aduk dan keadaan yang semakin tidak jelas, gue meyakinkan diri kalau gue adalah gay. Bukan hanya sekedar karena gue mulai merasakan ketidaknormalan dalam hidup gue, tapi juga karena gue ingin membalas perbuatan bokap gue. Dengan dukungan T, dan pembenaran diri atas perasaan gue terhadap I dan terhadap teman baru gue itu, gue mendeklarasikan diri gue sebagai gay pada dua orang sahabat gue lainnya, R dan S.
Singkat cerita, gue terus menjalani hidup sebagai gay sampai ke bangku kuliah, walupun gue sempat berpacaran cukup lama dengan seorang perempuan. Namun keadaan di rumah pun semakin parah dan membuat gue merasa bahwa saat itu adalah waktu yang tepat untuk menghukum bokap gue dengan mengakui ke gay an gue.
Tapiii, bukannya merasa bersalah, dia hanya membalikkan dan menceramahi gue. Dan lebih parahnya, yang menjadi korban justru nyokap gue yang terpaksa dirawat di rumah sakit karena serangan jantung.
Gue mulai kehilangan makna menjadi gay, tapi di saat yang sama, gue merasa bahwa itu adalah hidup yang harus gue jalani. Akhirnya gue memutuskan untuk membiarkan diri gue semakin terjerumus tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di masa datang.
Masa sekarang.
Entah berapa pria yang telah gue tiduri, yang pasti gue tidak mungkin menyangkal bahwa sekarang gue memang tertarik secara sexual pada sesama jenis. Apalagi gue semakin nyaman dengan teman-teman yang baik dan mengerti keadaan gue. Gue mulai kehilangan kontrol dan batasan. Sampai akhirnya gue tidak berani lagi (baca: tidak berminat lagi) untuk menyentuh wanita.
Dan setiap kali ada teman yang bertanya apakah gue masih memiliki nafsu terhadap wanita, gue dengan mantap akan menjawab TIDAK! Padahal gue belum pernah menyentuh wanita, jadi bukannya tidak, tapi lebih tepat; tidak tahu dan tidak ingin tahu!
Kadang timbul kerinduan terhadap wanita, ingin merasakan mencintai wanita. Dan perasaan itu akan menjadi sangat kuat justru di saat gue sedang memiliki pacar pria. Gue menjadi merasa telah menyia-nyiakan waktu dengan pria itu. Gue ingin menghabiskan hidup gue dengan seorang wanita yang gue cintai dan anak-anak yang lucu dan berakhir di surga! Tapi hidup adalah pilihan antara benar dan salah, dan gue hanyalah manusia yang pasti tidak akan luput dari kesalahan, termasuk dalam memilih jalan hidup. Ya, gue memang tidak pernah menganggap hidup sebagi gay itu benar, tapi gue juga tidak akan menyangkal kalau gue telah memilih untuk menjalani hidup itu, setidaknya sampai hari ini.
Gue telah berjanji pada diri gue untuk berjuang melawan perasaan ini. Titik terang pun mulai terlihat, gue berhasil menemukan sumber masalahnya;
Gue selama ini kesepian dan hanya mencari sahabat yang bisa tulus mencintai dan selalu ada untuk gue. Dan itu terbukti ketika gue benar-benar mencintai seorang pria (dari gunung putri juga =p), saat itu gue bahkan tidak berpikir untuk tidur dengannya! Gue hanya senang dan nyaman ketika berada di dekatnya! Begitu juga dengan pria yang kini selalu menjadi sumber inspirasi dan tempat curahan hati buat gue. Tapi mungkin mereka tidak mengerti dan tidak seperti gue. Pandangan mereka akan relationship sesama jenis benar berbeda dari pandangan gue. Dan gue kembali kecewa dan merasa kesepian.
Selanjutnya gue jadi tahu bahwa menemukan sumber bukan berarti bisa mengatasi masalahnya! Tapi setidaknya gue akan mencoba dan terus mencari pria itu! Bukan untuk ditiduri, tapi seorang straight yang bisa menjadi sahabat dan membuat gue merasa nyaman menjalani hidup gue dan bisa melengkapi kekurangan gue. Sahabat yang membuat gue percaya diri untuk bisa bersama wanita yang mencintai gue. Sahabat yang setia dan menyayangi gue dengan tulus.
Bila perlu, bakal gue cari sampai ujung dunia. Hehehe. *diakhiri dengan hiperbola*
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment